Rabu, 26 April 2017

WALAU DI CEMOOH



DAKWAH TETAP BERJALAN WALAU DIHUJANI CEMOOH

Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Kewajiban ahli ilmu adalah menyampaikan kebenaran walaupun dicemooh oleh orang orang yang kurang ilmunya. Karena Allah Ta'ala mengambil perjanjian dari setiap ahli ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan tidak boleh menyembunyikannya. Allah berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

"Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang orang yang diberikan alkitab, "Hendaklah kalian menjelaskannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya." (Ali Imron: 187)

Imam Qotadah rahimahullah berkata, "Ini adalah perjanjian yang Allah ambil dari para ahli ilmu. Siapa yang memiliki ilmu hendaklah ia menjelaskannya dan jangan menyembunyikannya."
Syaikh Muqbil berkata dalam kitab Jami' shahihnya: "Seorang alim mengamalkan sesuai ilmunya walaupun dicemooh oleh orang orang jahil."

Lalu membawakan atsar atsar dari sebagian shahabat. Diantaranya kisah Ma'qil bin yasar yang dikeluarkan oleh Ad Darimi: ketika beliau sedang makan lalu makanannya jatuh. Kemudian beliau mengambilnya dan membersihkan kotorannya dan memakannya. Maka orang orang ajampun mencemoohnya. Beliau berkata, "Aku tidak akan meninggalkan apa yang aku dengar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya karena cemoohan orang orang ajam tersebut."

.

Selasa, 25 April 2017

KISAH NYATA MENYENTUH HATI



”KEAJAIBAN TAQWA DAN TAWAKAL”

Manusia dijadikan bersifat lemah , butuh perlindungan dan pertolongan. Kemampuan manusia dibatasi oleh penglihatan, pendengaran, akal dan fisiknya.
Banyak peristiwa terjadi diluar jangkauan kemampuan manusia untuk mengatasinya dan selayaknya meminta tolong kepada Tuhannya, melalui ibadah dan doa.
Janganlah pernah putus asa jika Tuhanmu adalah Allah. Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus. 
Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci. Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya.
Kisah yang menggetarkan hati ini tampaknya sangat cocok untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan doa, seperti disadur dari situs www.muslm.org, diterjemahkan oleh Ustadz Firanda Andirja seperti dilansir dari situs firanda. Selengkapnya:
Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi.
Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang Putri setelah setahun pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu.
Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik.
Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak.
Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan Putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali.
Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.
Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.
Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.
Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah Putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun.
Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.
Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun.
Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.
Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku (kini berusia 19 tahun) berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita : Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur.
Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.
Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku;
"Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"
Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-.
Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…
Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…
Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"
Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh. Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?".
Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun.
Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…
Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar.
Ia berkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'".
Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Mereka pun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.
Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…".  Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…".
Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata;
Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??
Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun.
Lalu setelah itu kami pun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua.
Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…
Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.
Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…
Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…
Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)

Sumber : UcNews

NABI MUHAMMAD Shallallahu 'alaihi Wasallam ADALAH PENUTUP PARA NABI



“MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi Wasallam PENUTUP PARA NABI”
Oleh : Agus H Bashori, Lc., M. Ag.

            Telah kami sebutkan bahwa untuk menghasilkan anak didik muslim yang baik, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia sebagaimana cita-cita Pendidikan Nasional, Maka kita harus menguatkan kurikulum PAI kita dengan muatan pokok-pokok ajaran islam tentang Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam , Ahlul Bait dan sahabat, sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sehingga penyimpangan Syiah tidak mendapatkan tempat dihati para murid atau siwa.
            Diantara materi yang wajib diajarkan dengan jelas dan tegas adalah masalah Khatma an-nubuwwah (Penutup Kenabian) dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Materi ini dapat menguatkan iman dan membatalkan konsep Imamah Syiah yang menyimpang. Kita wajib menanamkan kepada anak didik kita bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Allah Menegaskan di dalam Al-Quran :
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(Q.S. Al-Ahzab: 40)
            Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri menjelaskan dalam sabdanya, Yang artinya : “Perumpamaan dan perumpamaan nabi sebel;umku adalah seperti satu orang yang membangun rumah, maka dia membaguskannya dan memperindahnya, kecuali kurang satu batu bata pojok. Maka orang-orang berputar mengelilinginya dan mereka kagum kepadanya. Mereka berkata : ‘Mengapa tidak diletakkan saja batu bata ini?’ Nabi bersabda : “Akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.”(H.R. Bukhari dan Muslim)
            Beliau juga bersabda yang artinya: “Akan ada di tengah umatku tiga puluh pendusta semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahku.” (H.R. Abu daud dan Tirmidzi)
            Ini artinya bahwa wahyu sudah tidak turun lagi, sebab wahyu Al-Quran sudah lengkap dan dijaga oleh Allah Ta’ala, dan dia merupakan mu’jizat abadi. Meskipun nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sudah wafat namun mu’jizatnya tetap hidup dan memberikan sinaran kepada umat manusia. Dengan demikian nabi baru atau yang semakna dengan Nabi (seperti imam Ma’shum) tidak lagi diperlukan, sebab semua orang bisa mendapatkan hidayah melalui hidayah al-Quran yang dijaga oleh Allah dan dikawal oleh para pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam yaitu para ulama ahli Hadits.
            Dengan demikian, perbuatan Syiah imamiyah “Menyuarakan adanya al-imamah al-ilahiyah setelah nabi wafat, adalah penistaan terhadap eksistensi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai penutup para Nabi. “Demikian kesimpulan yang disampaikan Syaikh Muhammad Shaleh al-Khidher dalam kitabnya Tsumma Abshartu al-Haqiqah.[1]
            Selanjutnya Syaikh al-Khidher Menjelaskan : “Saya sudah banyak merenungkan riwayat-riwayat Syiah yang berkenaan dengan para imam dan keutamaan-keutamaan mereka. Sya berfikir mengenai hikmah Allah Ta’ala menjadikan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagi penutup para nabi dan rasul, kemudian saya bertanya mengenai pernyataan ini, “jika para imam ada dua belas (sebagaimana keyakinan Syiah), maka mereka itu adalah pintu-pintu Allah sebagai jalan menuju kepada-Nya.[2] Dan mereka adalah hijab-hijab Allah dan perantara-perantara antara Allah dan Makhluk-Nya.[3] Dan bahwa manusia tidak bisa mendapat hidayah kecuali dengan perantara para imam tersebut. Mereka itulah sarana penyambung antara makhluk dengan allah. Tidaklah seseorang bisa masuk surga kecuali dengan mengetahui para imam tersebut.[4] mereka adalah para penjaga Syari’at, mereka berpegang teguh terhadap syariat. Keadaan mereka itu seperti keadaannya para Nabi.[5] Tidak Boleh Membantah para imam. Karena membantah mereka berarti membantah rasulullah. Orang membantah Rasulullah berarti membantah Allah Ta’ala dan bahwasanya hukum-hukum syariat ilahi tidak akan ditimba kecuali dari air terbaiknya para imam, dan tidak sah mengambilnya kecuali dari para imam.[7] Mereka mengetahui semua ilmu yang keluar dari malaikat, para nabi, dan para rasul.[8] Dan para imam tidak berbuat apa-apa kecuali dengan janji dari Allah Ta’ala, dan perintah dari-Nya agar mereka tidak melanggarnya.[9] Dan para malaikat memasuki rumah-rumah mereka, lalu mendarat dipermadani mereka, dan menyampaikan kepada mereka banyak berita.[10] Dan para imam itu mampu menghidupkan orang-orang mati, menyembuhkan orang buta dan kusta, dan segala mu’jizat para nabi mereka miliki.[11] Dan bahwasanya jin adalah khadam (pelayan) mereka, mereka menampakan diri kepada para imam meminta mereka menjadi pengajar agama mereka.[12] Para imam memiliki semua kitab yang diturunkan Allah. Para imam itu mengetahui seluruh bahasa kitab itu semua.[13] Dan bahwasannya tidak ada sedikitpun dari kebenaran ditangan manusia, kecuali itu berasal dari para imam.[14] Mereka diajak bicara dan mereka mendengarkan suatu suara, dan datang kepada mereka wujud yang lebih besar daripada jibril dan mikail.[15] Dan bahwasannya apa-apa yang telah diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, telah diserahkan pula kepada para imam ‘Alaihissalam.[16]
            Jika demikian kedudukan imam Syiah lalu apa artinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai penutup para Nabi dan Rasul, kalu tugas-tugas nabi semuanya berjalan terus setelah beliau wafat?!!. Apa artinya penutup para nabi jika setelah rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ada orang-orang yang ma’shum, suci, mendapat ilham, dan wajib diikuti, dan mereka punya mu’jizat sebagai bukti imamah mereka, seperti mu7’jizat para nabi! Lantas mengapa Al-Quran menyatakan adanya keyakinan penutup para nabi kalau perkaranya seperti yang mereka maksud?!! Apakah perkaranya hanya perbedaan penggunaan kata nabi yang diubah menjadi kata imam, yang tidak ada bedanya melainkan hanya dari sisi nama saja ?!! Ini kalau kita pura-pura lupa nash-nash yang mengunggulkan imam Syiah diatas nabi!”.
            Demikian kesimpulan  Syaekh Muhammad Salem al-khidher yang sangat teliti. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam  telah menegaskan bahwa setelah beliau tidak ada nabi, namun orang Syiah mengatakan setelah nabi ada imam ini seperti nabibahkan diatas nabi, maka inni hanyalah akal-akalan orang yang rusak. Kesesatan di atas kesesatan. Mereka mengganti istilah nabi dengan imam, lalu menjadikan imam diatas Nabi. Para Ulama Syiah dengan tegas menyatakan bahwa imam sama dengan nabi. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Muhammad Ridho Al-Muzhaffar dalam Aqaid Al-Imamiyyah dan Al Imam Muhammad Aal Kasyif al-Ghita’ dalam bukunya Ashl As-Syiah wa Ushuluha” , dalam bihar al-anwar.
            Karena begtu banyak dan jelas hadist-hadist yang menyebutkan kedudukan imam dan kesamaanya dengan nabi maka Al-Allamah Al-Majlisi menyatakan dengan lantang : “Kami tidak mengetahui ada sisi lain karena mereka (para imam) itu tidak menyandang gelar nubuwwah, kecuali mengawal keagungan Khatam al-anbiya’. Dan akal kami tidak sampai pada perbedaan antara Nubuwwah dan imamah.[17]
            Sampai Syaikh Al-Mufid (salah seorang ulama Syi’ah) menegaskan hakikat ini, seraya berkata: “Syariat melarang penamaan para imam kami dengan nubuwwah (kenabian), Walaupun logika tidak melarang hal tersebut!!”[18] . Bahkan Shadrudidin al-Syirazi dalam kitab “Al-Hujjah” Lebih lancang lagi dengan mengatakan : “Imamah wajib tidak terputus, imamah dan nubuwwah itu hakekat dalam dzat dan berbeda berdasarka sudut pandang tentang dzurriyyahnya (keturunannya), bahkan harus tidak boleh terputus makna nubuwwah dan apa yang mengalir pada alirannya dari muka bumi ini selamanya!!.”
            Guru kami Syaikh Muhammad Salem al-Khidher mengatakan bahwa beliau banyak berdiskusi mengenai masalah ini dari orang Syi’ah, namun beliau tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Keyakinan tentang imamah Syi’ah yang rusak ini terus diwariskan hingga ditetapkan oleh Al-Khomaini (pemimpin Syi’ah Iran yang diikuti oleh Syi’ah Dunia, termasuk Syiah Indonesia) dalam kitabnya Al-hukumah Al-islamiyah, dengan ucapannya, : “Sesungguhnya diantara madzhab kita yang pasti adalah bahwa para imam kita itu memiliki kdudukan uang tidak bisa dicapai oleh satu malaikatpun yang didekatkan (kepada Allah), juga oleh seorang nabi pun yang diutus rasul.”
            Akhirnya, perlu kami tegaskan sekali lagi bahwa keberadaan dan gelar Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam   Sebagai Khatam al-Nabiyyin Anbiya’ atau Khatam an-Nabiyyin wajib diterangkan dengan benar dan rinci sampai murid atau siswa mengetahui bahwa keyakinan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam  (seperti kelompok Ahmadiyyah) adalah sesat. Demikian pula keyakinan adanya imam Ma’shum setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam   yang setara dengan Nabi atau bahkan diatasnya nabi (sebagianman konsep imamah Syiah) adalah Sesat.

Sumber : Majalah al-Umm, edisi 06/vol.III


[1] Sudah kami terjemahkan lengkap ke dalam bahasa Indonesia. Satu pasal diantaranya kami cetak dengan judul Khilafah dan Imamah mengurai inti perbedaan sunnah Syi’ah.

[2] ‘Aqaid Al Imamiyah, al-muzhaffar, 69.

[3] Bihar Al Anwar, 23/97

[4] Bihar Al Anwar, 23/99.

[5]Aqaid Al Imamiyah, al-Muzhaffar, 67.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] al-kafi, 1/255.

[9] al-kafi, 1/279.

[10] al-kafi, 1/399.

[11] Bihar Al Anwar, 27/29.

[12] Bihar Al Anwar 27/13-24; juga ada di al- kafi, 1/394, di dalamnya ada 7 hadits.

[13] al-kafi, 1/227.

[14] Al-kafi 1/339.

[15] Bashoir Ad Darojaat, 251

[16] Bashoir Ad Darojaat, 403

[17] Bihar Al Anwar, 26/82.

[18] Awailul Maqolat, 49-50.

[19] Kitab Al-Hujjah, 51.

[20] Al-Hukumah Al-Islamiyah, Al-Khumaini, 52.



Sabtu, 08 April 2017

PONDOK PESANREN TAHFIDZ AL-QURAN AL-MUKMIN BIN BAZ 3 PONJONG GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA



PONDOK PESANREN TAHFIDZ AL-QURAN AL-MUKMIN BIN BAZ 3 PONJONG GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA






para santri sehingga santri pun dituntut untuk lebih berakhlakul karimah.


Tempat di dataran yang cukup tinggi ini dengan suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah dapat menjadikan para santri nyaman untuk menghafal Al-Quran secara mutqin Insya Allah.

Tak lupa juga dengan fasilitas-fasilitasnya yang mungkin terdengar sederhana tetapi dapat memadai bagi para santri seperti Asrama, Masjid, Kelas, Perpustakaan, Dapur makan, Air yang Memadai, Air Minum dengan Mesin RO dan fasilitas Olah raganya seperti lapangan sepak bola, Bulu Tangkis, kolam renang, dan lain sebagainya.





Pondok pesantren Tahfidz Al-Quran Al mukmin merupakan cabang dari Ma’had Tahfidz Mu’allimil Qur’an Islamic Centre Bin Baz Karanggayam, Piyungan, Bantul,  D. I Yogyakarta yang berlokasi di desa Ponjong, Kec. Ponjong, Kab. Gunungkidul, D.I. yogyakarta.
Sebuah pedesaan yang asri dengan keramah tamahan warga penduduk ponjong ini dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada

profil Pondok Pesantren Tahfidz Al-Quran Al-Mukmin Ponjong

PONDOK PESANREN TAHFIDZ AL-QURAN AL-MUKMIN BIN BAZ 3 PONJONG GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA

PONDOK PESANREN TAHFIDZ AL-QURAN AL-MUKMIN BIN BAZ 3 PONJONG GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA para santri sehingga sa...

POSTINGAN LAINNYA