Selasa, 25 April 2017

NABI MUHAMMAD Shallallahu 'alaihi Wasallam ADALAH PENUTUP PARA NABI



“MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi Wasallam PENUTUP PARA NABI”
Oleh : Agus H Bashori, Lc., M. Ag.

            Telah kami sebutkan bahwa untuk menghasilkan anak didik muslim yang baik, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia sebagaimana cita-cita Pendidikan Nasional, Maka kita harus menguatkan kurikulum PAI kita dengan muatan pokok-pokok ajaran islam tentang Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam , Ahlul Bait dan sahabat, sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sehingga penyimpangan Syiah tidak mendapatkan tempat dihati para murid atau siwa.
            Diantara materi yang wajib diajarkan dengan jelas dan tegas adalah masalah Khatma an-nubuwwah (Penutup Kenabian) dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Materi ini dapat menguatkan iman dan membatalkan konsep Imamah Syiah yang menyimpang. Kita wajib menanamkan kepada anak didik kita bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Allah Menegaskan di dalam Al-Quran :
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(Q.S. Al-Ahzab: 40)
            Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri menjelaskan dalam sabdanya, Yang artinya : “Perumpamaan dan perumpamaan nabi sebel;umku adalah seperti satu orang yang membangun rumah, maka dia membaguskannya dan memperindahnya, kecuali kurang satu batu bata pojok. Maka orang-orang berputar mengelilinginya dan mereka kagum kepadanya. Mereka berkata : ‘Mengapa tidak diletakkan saja batu bata ini?’ Nabi bersabda : “Akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.”(H.R. Bukhari dan Muslim)
            Beliau juga bersabda yang artinya: “Akan ada di tengah umatku tiga puluh pendusta semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahku.” (H.R. Abu daud dan Tirmidzi)
            Ini artinya bahwa wahyu sudah tidak turun lagi, sebab wahyu Al-Quran sudah lengkap dan dijaga oleh Allah Ta’ala, dan dia merupakan mu’jizat abadi. Meskipun nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sudah wafat namun mu’jizatnya tetap hidup dan memberikan sinaran kepada umat manusia. Dengan demikian nabi baru atau yang semakna dengan Nabi (seperti imam Ma’shum) tidak lagi diperlukan, sebab semua orang bisa mendapatkan hidayah melalui hidayah al-Quran yang dijaga oleh Allah dan dikawal oleh para pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam yaitu para ulama ahli Hadits.
            Dengan demikian, perbuatan Syiah imamiyah “Menyuarakan adanya al-imamah al-ilahiyah setelah nabi wafat, adalah penistaan terhadap eksistensi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai penutup para Nabi. “Demikian kesimpulan yang disampaikan Syaikh Muhammad Shaleh al-Khidher dalam kitabnya Tsumma Abshartu al-Haqiqah.[1]
            Selanjutnya Syaikh al-Khidher Menjelaskan : “Saya sudah banyak merenungkan riwayat-riwayat Syiah yang berkenaan dengan para imam dan keutamaan-keutamaan mereka. Sya berfikir mengenai hikmah Allah Ta’ala menjadikan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagi penutup para nabi dan rasul, kemudian saya bertanya mengenai pernyataan ini, “jika para imam ada dua belas (sebagaimana keyakinan Syiah), maka mereka itu adalah pintu-pintu Allah sebagai jalan menuju kepada-Nya.[2] Dan mereka adalah hijab-hijab Allah dan perantara-perantara antara Allah dan Makhluk-Nya.[3] Dan bahwa manusia tidak bisa mendapat hidayah kecuali dengan perantara para imam tersebut. Mereka itulah sarana penyambung antara makhluk dengan allah. Tidaklah seseorang bisa masuk surga kecuali dengan mengetahui para imam tersebut.[4] mereka adalah para penjaga Syari’at, mereka berpegang teguh terhadap syariat. Keadaan mereka itu seperti keadaannya para Nabi.[5] Tidak Boleh Membantah para imam. Karena membantah mereka berarti membantah rasulullah. Orang membantah Rasulullah berarti membantah Allah Ta’ala dan bahwasanya hukum-hukum syariat ilahi tidak akan ditimba kecuali dari air terbaiknya para imam, dan tidak sah mengambilnya kecuali dari para imam.[7] Mereka mengetahui semua ilmu yang keluar dari malaikat, para nabi, dan para rasul.[8] Dan para imam tidak berbuat apa-apa kecuali dengan janji dari Allah Ta’ala, dan perintah dari-Nya agar mereka tidak melanggarnya.[9] Dan para malaikat memasuki rumah-rumah mereka, lalu mendarat dipermadani mereka, dan menyampaikan kepada mereka banyak berita.[10] Dan para imam itu mampu menghidupkan orang-orang mati, menyembuhkan orang buta dan kusta, dan segala mu’jizat para nabi mereka miliki.[11] Dan bahwasanya jin adalah khadam (pelayan) mereka, mereka menampakan diri kepada para imam meminta mereka menjadi pengajar agama mereka.[12] Para imam memiliki semua kitab yang diturunkan Allah. Para imam itu mengetahui seluruh bahasa kitab itu semua.[13] Dan bahwasannya tidak ada sedikitpun dari kebenaran ditangan manusia, kecuali itu berasal dari para imam.[14] Mereka diajak bicara dan mereka mendengarkan suatu suara, dan datang kepada mereka wujud yang lebih besar daripada jibril dan mikail.[15] Dan bahwasannya apa-apa yang telah diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, telah diserahkan pula kepada para imam ‘Alaihissalam.[16]
            Jika demikian kedudukan imam Syiah lalu apa artinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai penutup para Nabi dan Rasul, kalu tugas-tugas nabi semuanya berjalan terus setelah beliau wafat?!!. Apa artinya penutup para nabi jika setelah rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ada orang-orang yang ma’shum, suci, mendapat ilham, dan wajib diikuti, dan mereka punya mu’jizat sebagai bukti imamah mereka, seperti mu7’jizat para nabi! Lantas mengapa Al-Quran menyatakan adanya keyakinan penutup para nabi kalau perkaranya seperti yang mereka maksud?!! Apakah perkaranya hanya perbedaan penggunaan kata nabi yang diubah menjadi kata imam, yang tidak ada bedanya melainkan hanya dari sisi nama saja ?!! Ini kalau kita pura-pura lupa nash-nash yang mengunggulkan imam Syiah diatas nabi!”.
            Demikian kesimpulan  Syaekh Muhammad Salem al-khidher yang sangat teliti. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam  telah menegaskan bahwa setelah beliau tidak ada nabi, namun orang Syiah mengatakan setelah nabi ada imam ini seperti nabibahkan diatas nabi, maka inni hanyalah akal-akalan orang yang rusak. Kesesatan di atas kesesatan. Mereka mengganti istilah nabi dengan imam, lalu menjadikan imam diatas Nabi. Para Ulama Syiah dengan tegas menyatakan bahwa imam sama dengan nabi. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Muhammad Ridho Al-Muzhaffar dalam Aqaid Al-Imamiyyah dan Al Imam Muhammad Aal Kasyif al-Ghita’ dalam bukunya Ashl As-Syiah wa Ushuluha” , dalam bihar al-anwar.
            Karena begtu banyak dan jelas hadist-hadist yang menyebutkan kedudukan imam dan kesamaanya dengan nabi maka Al-Allamah Al-Majlisi menyatakan dengan lantang : “Kami tidak mengetahui ada sisi lain karena mereka (para imam) itu tidak menyandang gelar nubuwwah, kecuali mengawal keagungan Khatam al-anbiya’. Dan akal kami tidak sampai pada perbedaan antara Nubuwwah dan imamah.[17]
            Sampai Syaikh Al-Mufid (salah seorang ulama Syi’ah) menegaskan hakikat ini, seraya berkata: “Syariat melarang penamaan para imam kami dengan nubuwwah (kenabian), Walaupun logika tidak melarang hal tersebut!!”[18] . Bahkan Shadrudidin al-Syirazi dalam kitab “Al-Hujjah” Lebih lancang lagi dengan mengatakan : “Imamah wajib tidak terputus, imamah dan nubuwwah itu hakekat dalam dzat dan berbeda berdasarka sudut pandang tentang dzurriyyahnya (keturunannya), bahkan harus tidak boleh terputus makna nubuwwah dan apa yang mengalir pada alirannya dari muka bumi ini selamanya!!.”
            Guru kami Syaikh Muhammad Salem al-Khidher mengatakan bahwa beliau banyak berdiskusi mengenai masalah ini dari orang Syi’ah, namun beliau tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Keyakinan tentang imamah Syi’ah yang rusak ini terus diwariskan hingga ditetapkan oleh Al-Khomaini (pemimpin Syi’ah Iran yang diikuti oleh Syi’ah Dunia, termasuk Syiah Indonesia) dalam kitabnya Al-hukumah Al-islamiyah, dengan ucapannya, : “Sesungguhnya diantara madzhab kita yang pasti adalah bahwa para imam kita itu memiliki kdudukan uang tidak bisa dicapai oleh satu malaikatpun yang didekatkan (kepada Allah), juga oleh seorang nabi pun yang diutus rasul.”
            Akhirnya, perlu kami tegaskan sekali lagi bahwa keberadaan dan gelar Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam   Sebagai Khatam al-Nabiyyin Anbiya’ atau Khatam an-Nabiyyin wajib diterangkan dengan benar dan rinci sampai murid atau siswa mengetahui bahwa keyakinan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam  (seperti kelompok Ahmadiyyah) adalah sesat. Demikian pula keyakinan adanya imam Ma’shum setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam   yang setara dengan Nabi atau bahkan diatasnya nabi (sebagianman konsep imamah Syiah) adalah Sesat.

Sumber : Majalah al-Umm, edisi 06/vol.III


[1] Sudah kami terjemahkan lengkap ke dalam bahasa Indonesia. Satu pasal diantaranya kami cetak dengan judul Khilafah dan Imamah mengurai inti perbedaan sunnah Syi’ah.

[2] ‘Aqaid Al Imamiyah, al-muzhaffar, 69.

[3] Bihar Al Anwar, 23/97

[4] Bihar Al Anwar, 23/99.

[5]Aqaid Al Imamiyah, al-Muzhaffar, 67.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] al-kafi, 1/255.

[9] al-kafi, 1/279.

[10] al-kafi, 1/399.

[11] Bihar Al Anwar, 27/29.

[12] Bihar Al Anwar 27/13-24; juga ada di al- kafi, 1/394, di dalamnya ada 7 hadits.

[13] al-kafi, 1/227.

[14] Al-kafi 1/339.

[15] Bashoir Ad Darojaat, 251

[16] Bashoir Ad Darojaat, 403

[17] Bihar Al Anwar, 26/82.

[18] Awailul Maqolat, 49-50.

[19] Kitab Al-Hujjah, 51.

[20] Al-Hukumah Al-Islamiyah, Al-Khumaini, 52.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PONDOK PESANREN TAHFIDZ AL-QURAN AL-MUKMIN BIN BAZ 3 PONJONG GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA

PONDOK PESANREN TAHFIDZ AL-QURAN AL-MUKMIN BIN BAZ 3 PONJONG GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA para santri sehingga sa...

POSTINGAN LAINNYA