“MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi
Wasallam PENUTUP PARA NABI”
Oleh : Agus H Bashori, Lc., M. Ag.
Telah kami sebutkan bahwa untuk
menghasilkan anak didik muslim yang baik, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia
sebagaimana cita-cita Pendidikan Nasional, Maka kita harus menguatkan kurikulum
PAI kita dengan muatan pokok-pokok ajaran islam tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam , Ahlul
Bait dan sahabat, sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sehingga
penyimpangan Syiah tidak mendapatkan tempat dihati para murid atau siwa.
Diantara materi yang wajib diajarkan
dengan jelas dan tegas adalah masalah Khatma an-nubuwwah (Penutup
Kenabian) dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Materi ini
dapat menguatkan iman dan membatalkan konsep Imamah Syiah yang menyimpang. Kita
wajib menanamkan kepada anak didik kita bahwa Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi Wasallam adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Allah
Menegaskan di dalam Al-Quran :
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ
أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۧنَۗ
وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠
“Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu”(Q.S. Al-Ahzab: 40)
Nabi Shallallahu
‘alaihi Wasallam sendiri menjelaskan dalam sabdanya,
Yang artinya : “Perumpamaan dan perumpamaan nabi sebel;umku adalah seperti
satu orang yang membangun rumah, maka dia membaguskannya dan memperindahnya,
kecuali kurang satu batu bata pojok. Maka orang-orang berputar mengelilinginya
dan mereka kagum kepadanya. Mereka berkata : ‘Mengapa tidak diletakkan saja
batu bata ini?’ Nabi bersabda : “Akulah batu bata itu dan aku adalah penutup
para nabi.”(H.R. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda yang artinya: “Akan ada di tengah
umatku tiga puluh pendusta semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah
penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahku.” (H.R. Abu daud dan Tirmidzi)
Ini artinya bahwa wahyu sudah tidak turun lagi, sebab
wahyu Al-Quran sudah lengkap dan dijaga oleh Allah Ta’ala, dan dia merupakan
mu’jizat abadi. Meskipun nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi Wasallam sudah wafat namun mu’jizatnya tetap
hidup dan memberikan sinaran kepada umat manusia. Dengan demikian nabi baru atau
yang semakna dengan Nabi (seperti imam Ma’shum) tidak lagi diperlukan, sebab
semua orang bisa mendapatkan hidayah melalui hidayah al-Quran yang dijaga oleh
Allah dan dikawal oleh para pewaris Nabi Shallallahu
‘alaihi Wasallam yaitu para ulama ahli Hadits.
Dengan demikian, perbuatan Syiah imamiyah “Menyuarakan
adanya al-imamah al-ilahiyah setelah nabi wafat, adalah penistaan
terhadap eksistensi Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi Wasallam sebagai penutup
para Nabi. “Demikian kesimpulan yang disampaikan Syaikh Muhammad Shaleh
al-Khidher dalam kitabnya Tsumma Abshartu al-Haqiqah.[1]
Selanjutnya Syaikh al-Khidher
Menjelaskan : “Saya sudah banyak merenungkan riwayat-riwayat Syiah yang
berkenaan dengan para imam dan keutamaan-keutamaan mereka. Sya berfikir
mengenai hikmah Allah Ta’ala menjadikan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
Wasallam sebagi penutup para nabi dan rasul, kemudian saya bertanya
mengenai pernyataan ini, “jika para imam ada dua belas (sebagaimana keyakinan
Syiah), maka mereka itu adalah pintu-pintu Allah sebagai jalan menuju
kepada-Nya.[2] Dan mereka adalah hijab-hijab Allah dan
perantara-perantara antara Allah dan Makhluk-Nya.[3] Dan bahwa
manusia tidak bisa mendapat hidayah kecuali dengan perantara para imam
tersebut. Mereka itulah sarana penyambung antara makhluk dengan allah. Tidaklah
seseorang bisa masuk surga kecuali dengan mengetahui para imam tersebut.[4]
mereka adalah para penjaga Syari’at, mereka berpegang teguh terhadap syariat. Keadaan
mereka itu seperti keadaannya para Nabi.[5] Tidak Boleh Membantah
para imam. Karena membantah mereka berarti membantah rasulullah. Orang
membantah Rasulullah berarti membantah Allah Ta’ala dan bahwasanya hukum-hukum
syariat ilahi tidak akan ditimba kecuali dari air terbaiknya para imam, dan
tidak sah mengambilnya kecuali dari para imam.[7] Mereka mengetahui
semua ilmu yang keluar dari malaikat, para nabi, dan para rasul.[8] Dan
para imam tidak berbuat apa-apa kecuali dengan janji dari Allah Ta’ala, dan
perintah dari-Nya agar mereka tidak melanggarnya.[9] Dan para
malaikat memasuki rumah-rumah mereka, lalu mendarat dipermadani mereka, dan
menyampaikan kepada mereka banyak berita.[10] Dan para imam itu
mampu menghidupkan orang-orang mati, menyembuhkan orang buta dan kusta, dan
segala mu’jizat para nabi mereka miliki.[11] Dan bahwasanya jin
adalah khadam (pelayan) mereka, mereka menampakan diri kepada para imam
meminta mereka menjadi pengajar agama mereka.[12] Para imam memiliki
semua kitab yang diturunkan Allah. Para imam itu mengetahui seluruh bahasa
kitab itu semua.[13] Dan bahwasannya tidak ada sedikitpun dari
kebenaran ditangan manusia, kecuali itu berasal dari para imam.[14] Mereka
diajak bicara dan mereka mendengarkan suatu suara, dan datang kepada mereka
wujud yang lebih besar daripada jibril dan mikail.[15] Dan
bahwasannya apa-apa yang telah diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wasallam, telah diserahkan pula kepada para imam ‘Alaihissalam.[16]
Jika demikian kedudukan imam Syiah lalu apa artinya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wasallam sebagai penutup para Nabi dan Rasul, kalu tugas-tugas nabi
semuanya berjalan terus setelah beliau wafat?!!. Apa artinya penutup para nabi
jika setelah rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ada orang-orang
yang ma’shum, suci, mendapat ilham, dan wajib diikuti, dan mereka punya
mu’jizat sebagai bukti imamah mereka, seperti mu7’jizat para nabi! Lantas mengapa
Al-Quran menyatakan adanya keyakinan penutup para nabi kalau perkaranya seperti
yang mereka maksud?!! Apakah perkaranya hanya perbedaan penggunaan kata nabi
yang diubah menjadi kata imam, yang tidak ada bedanya melainkan hanya dari sisi
nama saja ?!! Ini kalau kita pura-pura lupa nash-nash yang mengunggulkan imam
Syiah diatas nabi!”.
Demikian kesimpulan Syaekh Muhammad Salem al-khidher yang sangat
teliti. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah menegaskan bahwa setelah beliau tidak
ada nabi, namun orang Syiah mengatakan setelah nabi ada imam ini seperti
nabibahkan diatas nabi, maka inni hanyalah akal-akalan orang yang rusak.
Kesesatan di atas kesesatan. Mereka mengganti istilah nabi dengan imam, lalu
menjadikan imam diatas Nabi. Para Ulama Syiah dengan tegas menyatakan bahwa
imam sama dengan nabi. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Muhammad Ridho
Al-Muzhaffar dalam Aqaid Al-Imamiyyah dan Al Imam Muhammad Aal Kasyif
al-Ghita’ dalam bukunya Ashl As-Syiah wa Ushuluha” , dalam bihar
al-anwar.
Karena begtu banyak dan jelas
hadist-hadist yang menyebutkan kedudukan imam dan kesamaanya dengan nabi maka
Al-Allamah Al-Majlisi menyatakan dengan lantang : “Kami tidak mengetahui ada
sisi lain karena mereka (para imam) itu tidak menyandang gelar nubuwwah, kecuali
mengawal keagungan Khatam al-anbiya’. Dan akal kami tidak sampai pada
perbedaan antara Nubuwwah dan imamah.[17]
Sampai Syaikh Al-Mufid (salah
seorang ulama Syi’ah) menegaskan hakikat ini, seraya berkata: “Syariat melarang
penamaan para imam kami dengan nubuwwah (kenabian), Walaupun logika
tidak melarang hal tersebut!!”[18] . Bahkan Shadrudidin al-Syirazi
dalam kitab “Al-Hujjah” Lebih lancang lagi dengan mengatakan : “Imamah
wajib tidak terputus, imamah dan nubuwwah itu hakekat dalam dzat dan berbeda
berdasarka sudut pandang tentang dzurriyyahnya (keturunannya), bahkan
harus tidak boleh terputus makna nubuwwah dan apa yang mengalir pada alirannya
dari muka bumi ini selamanya!!.”
Guru kami Syaikh Muhammad Salem
al-Khidher mengatakan bahwa beliau banyak berdiskusi mengenai masalah ini dari
orang Syi’ah, namun beliau tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Keyakinan
tentang imamah Syi’ah yang rusak ini terus diwariskan hingga ditetapkan oleh
Al-Khomaini (pemimpin Syi’ah Iran yang diikuti oleh Syi’ah Dunia, termasuk
Syiah Indonesia) dalam kitabnya Al-hukumah Al-islamiyah, dengan
ucapannya, : “Sesungguhnya diantara madzhab kita yang pasti adalah bahwa para
imam kita itu memiliki kdudukan uang tidak bisa dicapai oleh satu malaikatpun
yang didekatkan (kepada Allah), juga oleh seorang nabi pun yang diutus rasul.”
Akhirnya, perlu kami tegaskan sekali
lagi bahwa keberadaan dan gelar Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam Sebagai Khatam al-Nabiyyin Anbiya’ atau
Khatam an-Nabiyyin wajib diterangkan dengan benar dan rinci sampai murid atau
siswa mengetahui bahwa keyakinan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi Wasallam (seperti kelompok
Ahmadiyyah) adalah sesat. Demikian pula keyakinan adanya imam Ma’shum setelah
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang setara dengan Nabi atau bahkan diatasnya
nabi (sebagianman konsep imamah Syiah) adalah Sesat.
Sumber : Majalah al-Umm, edisi 06/vol.III
[1]
Sudah kami terjemahkan lengkap ke dalam bahasa Indonesia. Satu pasal
diantaranya kami cetak dengan judul Khilafah dan Imamah mengurai inti
perbedaan sunnah Syi’ah.
[2] ‘Aqaid
Al Imamiyah, al-muzhaffar, 69.
[3]
Bihar Al Anwar, 23/97
[4]
Bihar Al Anwar, 23/99.
[5]Aqaid
Al Imamiyah, al-Muzhaffar, 67.
[6]
Ibid.
[7]
Ibid.
[8]
al-kafi, 1/255.
[9]
al-kafi, 1/279.
[10]
al-kafi, 1/399.
[11]
Bihar Al Anwar, 27/29.
[12]
Bihar Al Anwar 27/13-24; juga ada di al- kafi, 1/394, di dalamnya ada 7 hadits.
[13]
al-kafi, 1/227.
[14]
Al-kafi 1/339.
[15]
Bashoir Ad Darojaat, 251
[16]
Bashoir Ad Darojaat, 403
[17]
Bihar Al Anwar, 26/82.
[18]
Awailul Maqolat, 49-50.
[19]
Kitab Al-Hujjah, 51.
[20]
Al-Hukumah Al-Islamiyah, Al-Khumaini, 52.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar